09/05/2026
Saya hadir dan mendengarkan diskusi politik, beberapa mahasiswa mengungkapkan kegundahannya terhadap perpolitikan Indonesia dewasa ini yang dianggap tidak sesuai dengan harapan dan cita-cita rakyat. Kata-kata dan teriakan demokrasi seperti goblok, bodoh, tolol, tidak empati atau peduli, bangsat dan kata-kata caci maki lainnya membahana hingga ke sudut-sudut ruang.
Selesai diskusi, tanpa hasil yang signifikan, seorang mahasiswa bertanya kepada saya tentang diskusi kali ini. “Semoga kamu umur panjang dan bisa kembali lagi ke sini 20 tahun yang akan datang dan ikut hadir di acara seperti ini. Perhatikanlah, kelak, orang-orang (mahasiswa) yang sekarang ini mencaci maki, maka akan kamu lihat, mereka ini pun akan dicaci maki oleh orang-orang (mahasiswa) p**a dimasa depan”. Jawab saya.
Hari ini mereka mencaci, besok mereka akan dicaci, dan begitu terus berulang, persis, sama selamanya. Inilah yang dinamakan sebagai “Pengulangan Abadi atau Kembalinya yang Kekal”. Istilah ini sudah ada sejak awal mula filsafat tumbuh. Stoikisme menyebutnya sebagi Historic Recurrence, begitu p**a Epedokles. Konsep ini menjadi fenomenal oleh Nietzsche yang menyebutnya sebagai Eternal Recurrence atau Eternal Return dengan Amor Fati-nya. Dalam Teologi, konsep yang sama diusung oleh Mircea Eliade.