17/02/2021
IDEOLOGI KONSUMSI
Bukan hanya negara yang perlu ideologi. Mengkonsumsi pun membutuhkan ideologi karena dengan memiliki ideologi konsumsi, kita dengan pasti mengetahui apa yang kita konsumsi, berapa banyak yang harus kita konsumsi, dan kepada siapa kita berpihak. Dengan memiliki ideologi konsumsi, kita akan menjawab persoalan-persoalan paling mendasar yang dihadapi oleh dunia ini di masa yang akan datang.
Sepintas lalu, ideologi konsumsi barangkali tampak sebagai gagasan yang dibuat-buat. Namun sejumlah peristiwa telah menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana disorientasi konsumsi kita telah menghadirkan kesengsaraan demi kesengsaraan yang bahkan tidak pernah kita petakan sebab musababnya. Selama ini kita sudah terlampau skeptis untuk menerima sebuah catatan yang merangkum keterkaitan antara konsumsi pemanis buatan dengan tanah longsor. Kita juga sudah terlampau abai dengan keterkaitan antara mengkonsumsi serat kimiawi dengan banyaknya bangunan-bangunan yang tersambar oleh petir.
Kemana perginya kepekaan perasaan dan ketajaman pikiran kita untuk melihat cara kerja mekanis alam semesta ini?
Dengan banyaknya konsumsi pemanis buatan di tengah-tengah masyarakat, keseimbangan produksi gula merah masyarakat semakin terganggu. Terganggunya produksi gula merah mengakibatkan kepedulian masyarakat akan pohon penghasilnya semakin berkurang. Menurunnya kepedulian masyarakat terhadap pohon aren sebagai penghasil gula merah, mengakibatkan sebagian masyarakat mulai menebang pohon-pohon arennya dan digantikan dengan pohon-pohon berumur pendek untuk diambil kayunya. Barangkali tidak banyak yang mengetahui jika pohon aren tumbuh subur di tanah-tanah yang miring. Tanah-tanah yang miring inilah yang rawan mengalami longsor. Kita menutup mata terhadap keberadaan pohon aren yang selama ini menjaga tanah-tanah miring dari bencana tanah longsor.
Berbagai macam produk pabrikan yang memproduksi serat kimiawi juga berpengaruh besar terhadap produksi serat-serat alami di tengah-tengah masyarakat. Salah satunya adalah buah lontar. Menurunnya konsumsi masyarakat akan buah lontar sebagai makanan berserat tinggi dan tersudutkannya minuman alami yang dihasilkan oleh pohon ini yang selalu dicap sebagai penyebab mabuk-mabukan telah menyebabkan populasi pohon lontar menurun pelan tapi pasti. Dan tidak banyak yang mengetahui jika selama ini pohon lontar berfungsi sebagai penangkal petir alami. Di mana ada daerah-daerah yang banyak petir, pasti tumbuh banyak pohon lontar.
Dan banyak lagi pepohonan yang "bertugas" untuk menjaga manusia dari peristiwa-peristiwa alam yang memang tidak bisa dihindari. Pohon Intaran bertugas sebagai pemecah angin. Mempertahankannya berarti memperbesar kemungkinan kita terhindar dari terjangan angin puting beliung. Penggunaan lerak sebagai deterjen alami secara langsung berimplikasi pada kebersihan sungai karena pohon-pohon lerak tumbuh di pinggir-pinggir sungai sehingga menjaga tanah dan menjaga kualitas air. Demikian juga halnya dengan pohon gatep atau pohon gayam, pohon besar yang menjaga tanah, air dan udara di sekitar sungai dan lembah. Namun seberapa banyak dari kita sekarang yang masih mengkonsumsi gayam dan menggunakan lerak sebagai deterjen alami?
Mengkonsumsi, bukan hanya memasukkan material ke dalam perut untuk menghilangkan haus dan lapar. Mengkonsumsi juga bukan sekedar praktis-praktisan dan cepat-cepatan. Mengkonsumsi adalah soal cara hidup. Karenanya mutlak harus memiliki sebuah penyikapan. Sebuah ideologi.
Gede Kresna,
Arsitek desa, yang masih belum lulus memanjat pohon aren.
Yang mau ikut minum tuak manis, silahkan tulis di kolom komentar.