28/12/2013
Serba-serbi Merancang Taman
Jikalau boleh kita minta pada alam, berikanlah hijaunya, di tengah kota kami yang gersang ini. Kota kami panasnya telah menyamai gurun. Kami butuh sehamparan hutan lebat, agar bersih paru-paru ini. Agar dingin kepala ini. Agar luas rongga dada ini. Namun, tak ada yang perduli. Para pemilik modal lebih s**a mal. Para penguasa patuh pada pemilik modal. Hanya satu yang bisa dilakukan, pulang pada diri sendiri, sepersil tanah di sudut rumah kita. Tak luas, barangkali. Tak mengapa. Kecil jika dikali seribu, seratus ribu, atau sejuta, luas juga jadinya.
Sepersil hijau kiriman surga, tempat kupu-kupu bermain, juga capung dan burung kecil. Kududuk di sudutnya, di atas bangku tua berangka besi tempa. Di pangkuan, terbuka sebuah buku tebal, di halaman yang sama. Pikirku tak di sana. Terpancang mataku pada sebaris peragawan yang selalu ingin tampil menawan, kaktus, sirih belanda, aglonema, mawar, pun sedap malam. Di sisinya berbaris si pesolek pemakai parfum: kaca piring, sedap malam, juga cestrum. Harumnya menguar, membelai hidung. Air terjun di dinding sana mengguyur berulang batu paras yang kedinginan.
Di bawah pohon tanjung kubernaung. Hingar isyu golbal warming tak pernah sempat mampir ke sini. Di sepanjang jalan menuju rumah ini, berbaris perindang: kiara payung, kersen, buni, janda merana, dan trembesi. Aku hanya perlu waspada, pada akarnya yang kadang nakal, menjalar keman-mana. Di ujung kaki, tertangkap bayang-bayang yang jatuh di tanah, yang tak mati. Seiring gulir matahari, ia bergerak ...
Tamanku hadir untuk melembutkan rumahku yang angkuh. Di ruang sana masih kosong. Terpikir untuk memberikan wahana bagi si pemasok dapur macam sawi, cabe, brokoli, kangkung, bayam, atau tomat. Aku juga ingin mendirikan apotek hidup semisal kunyit, kencur, lengkuas, kayu manis, atau lada. Aku juga butuh bodyguard pengusir serangga semacam sereh, lavender, mentimun, atau geranium. Dijamin nyamuk bakal lari ketakutan. Rumahku terjebak di tengah gedung-gedung beton. Diserbu polusi debu, setiap hari. Aku butuh kehadirannya, anseviera, philodendron, ivy, chrysanthemum, paku boston, sinti belanda, dan beringin. Juga polusi suara, maka aku butuh bambu jepang untuk redamkan suara motor yang berisik.
Hujan mengguyur tiba-tiba. Aku berlari ke gazebo. Tujuanku jelas, kolam kecil di sampingnya. Ikan-ikan bers**a cita di dalam kolam berhias batu candi dan babmbu air yang tumbuh baik di tempat lembab. Kolam kecil, birunya meminjam langit. Teratai mekar di tengah, tempat katak-katak melompat. Kuhirup sejuknya udara. Tamanku telah tua. Tumbuh alami, liar, ta terurus. Aku butuh seorang ahli lansekap, barangkali. Mungkin ia lebih tahu tanaman apa yang sesuai tipe tanah di rumah ini.
Senja telah usai. Melalui pergola, aku menyusuri jalan setapak, dituntun sebaris batu pijakan yang mennyembul di sela-sela rumput gajah mini. Sekuat gajah, rumput yang kecil ini menjaga tanahku agar tak lembek saat hujan mengguyur. Di atasku, tanaman menjalar. Sulur-sulurnya mengingatkanku pada negeri dongeng.
Aku masuk ke rumah dengan hati lapang. Hari telah usai, tidak dengan semangatku yang membaru ...