Lahir di Kisaran, Sumatra, tidak diragukan lagi Sudjojono (1913-1986) merupakan salahsatu tokoh paling penting dalam sejarah seni rupa modern Indonesia. Salahsatu kontribusi terbesar Sudjojono kepada seni rupa Indonesia dapat dikatakan adalah pandangannya bahwa seni rupa Indonesia harus mencerminkan karakter negeri dan masyarakatnya. Ketika Mooi Indië (Indonesia Molek) – gaya yang menggambarkan re
presentasi ideal dari Indonesia dengan pemandangan-pemandangan indah – adalah gaya kesenian yang mendominasi selama awal abad ke-20, Sudjojono secara kuat menolak gaya tersebut dan menciptakan istilah Mooi Indië sebagai bentuk kesinisan atas gaya lukisan tersebut. Beliau melanjutkan melukis dengan gaya yang mewakili Indonesia pada masa itu, menggambarkan orang-orang Indonesia dalam aktifitas sehari-hari dan masalah-masalah mereka selama rezim kolonial. Seorang pemikir yang blak-blakan dan kritikus seni yang penuh gairah, Sudjojono juga tanpa lelah menghasilkan pandangan-pandangan dan ide-ide melalui tulisan dan komentar-komentarnya. Sudut pandang Sudjojono mengenai kesenian juga lebih disebarluaskan melalui keterlibatannya dalam pembentukan beberapa asosiasi seni pada masa kolonial. Beliau merupakan salahsatu pendiri PERSAGI ( Persatuan Ahli Gambar Indonesia, 1938), SIM (Seniman Indonesia Muda, 1946), mentor seni di departemen budaya POETERA dan Keimin Bunka Shidosho. Keterlibatannya dalam asoasiasi-asosiasi penting ini dilakukan bersama dengan banyak seniman terkemuka lainnya pada masa itu, termasuk di dalamnya adalah Affandi, Agus Djaya, Henk Ngantung dan Hendra Gunawan. Tidak diragukan asosiasi-asosiasi ini memainkan peran penting dalam pembentukan dan pengembangan seni modern Indonesia. Sudjojono merupakan seorang seniman dan penulis yang produktif. Karya artistiknya mencakup spektrum yang luas, dari lukisan, sketsa, seni publik dan relief, serta hasil karya keramik. Gaya dan keasyikan artistiknya juga beragam, mulai dari karya awal dan monumentalnya, yang secara signifikan mencerminkan semangat sejati Indonesia dan masyarakatnya selama masa perang dan perjuangan mereka untuk memperoleh kemerdekaan, hingga pemandangan, lukisan benda mati, potret dan penafsiran atas kehidupannya yang lebih pribadi dan keluarga di tahun-tahun kemudian. Born in Kisaran, Sumatra, S.Sudjojono (1913-1986) is undoubtedly one of the most important figures in the history of modern Indonesian art. One of Sudjojono’s biggest contributions to Indonesian Art is arguably his view that art of Indonesia should reflect the character of the land and its people. When Mooi Indië (Beautiful Indies) – a style which depicted the idealized representation of Indonesia with beautiful landscapes and sceneries – was the dominating art style during the early 20th century, S. Sudjojono strongly rejected the style and coined the term Mooi Indië as a sinister remark to that particular style of paintings. He continued working in the style of works which represent Indonesia at that time, portraying Indonesian people in their everyday life activities and their issues during the colonial regime. A forthright thinker and a passionate art critic, Sudjojono also tirelessly generated his views and ideas through his writings and commentaries. Sudjojono’s point of view in art was also further disseminated in his involvement in the establishments of several significant art associations during the colonial period. He was one of the founders of PERSAGI (Association of Indonesia Drawing Specialists, 1938), SIM (Young Indonesian Artists, 1946), art mentors in the cultural department of POETERA and Keimin Bunka Shidosho. His involvement in these important associations was done together with many other leading artists at that time, including Affandi, Agus Djaya, Henk Ngantung and Hendra Gunawan. These associations undoubtedly played an important role in the formation and development of modern Indonesian Art. His artistic oeuvre covers a wide spectrum, from paintings, sketches, drawings, public art and reliefs as well as ceramic works. His style and artistic preoccupation were also diverse, from his early and monumental works, which significantly reflect on the true spirit of Indonesia and the people during the war and their struggle against independence; to landscapes; still-lifes; portraits and renditions of his more personal life and family at later years. Source: http://web.ssudjojonocenter.com/?p=503