28/08/2025
Di balik pagar DPR, massa berteriak, spanduk berkibar, dan jalanan penuh dengan benturan suara. Sementara itu, aku memilih diam, duduk dengan kain di pangkuan, jarum di tangan, benang yang menari perlahan. Bukan karena aku tak peduli pada negeri ini, melainkan karena aku tahu: emosiku bisa terbakar habis jika ikut larut dalam kericuhan.
Setiap tusukan jarum ke kain adalah cara lain untuk melawan—dengan hening, dengan sabar. Jahitan demi jahitan seakan menambal luka batin yang retak oleh politik, mengikat marah agar tak meledak. Menyulam menjadi terapi, sebuah ruang sunyi tempat aku menata ulang keyakinan, bahwa perubahan tidak selalu lahir dari teriakan di jalan raya.
Ada yang berdiri di aspal dengan suara dan amarah, ada p**a yang duduk di ruang sunyi dengan benang dan kesabaran. Keduanya mungkin berbeda, tapi sama-sama berakar dari cinta pada kehidupan dan negeri. Dan aku, lewat sulaman kecil ini, menegaskan: protesku lahir bukan dalam bentuk teriakan, melainkan dalam keindahan yang tak bisa dibubarkan oleh gas air mata.
Dan aku, lewat sulaman kecil ini, menegaskan: protesku lahir bukan dalam bentuk teriakan, melainkan dalam keindahan yang tak bisa dibubarkan oleh gas air mata.
By - .new